Laskar Pelangi

03Nov08

2831328060_2f222bfe36

Laskar Pelangi ?..Hmm, sebelum film-nya diputar aja gemanya sudah bergaung dimana-mana. Maklum, film ini kan diangkat dari Novel laris karya Andrea Hirata. Seperti biasa kalau Novelnya aja sudah laris manis pasti orang-orang penasaran bagaimana ya hasil penggambaran novelnya kalau di-filmkan.

Hasilnya..wow, benar-benar tidak mengecewakan. Sangat layak ditonton. Highly Recommended deh. Riri Reza berhasil menampilkan sebuah perjuangan para pecinta pendidikan dengan lebih sederhana dan justru sangat mengena.

Sumpah deh, baru pertama kali ini saya nonton film di bioskop dan berhasil dibuat menangis bombay sampai berkali-kali. Keluar dari bioskop , saya berkali-kali dipelototin orang karena mata sembab saya, heran kali ya mereka..

Beberapa adegan kocak juga menghiasi film ini. Diantaranya kisah cinta pertama ikal yang konyol dan penuh imajinasi ataupun cerita pak guru Tora Sudiro yang naksir bu Mus, tapi kayaknya dicuekin deh..he2. Tapi kalo kita bandingkan dengan novelnya, ada beberapa bagian yang memang berbeda ataupun ditambahin oleh sang sutradara. Tapi ya itu tadi, bagi saya justru penyimpangan itulah yang membuat film ini makin indah. Meskipun begitu, misi yang diangkat tetap sama kok.

Saya sarankan untuk membawa tissue yang banyak karena kalian akan dibuat menangis berkali-kali. Entah karena kesederhanaan sarana belajar mereka atau mungkin karena kisah mereka. Awalnya mungkin kalian akan terenyuh melihat tampang polos Kucai sang ketua kelas yang harus bekerja menambang timah bersama orang-orang dewasa. Duuh, anak sekecil itu. Lalu ketika sang kepala sekolah meninggal dunia dan membuat Bu Mus kehilangan semangat untuk kembali ke sekolah, ternyata anak-anak kecil anggota laskar pelangi justru tidak menyerah. Mereka tetap menunggu di kelas berharap guru mereka segera datang. Klimaks dari cerita ini tentu saja ketika Lintang sang anak brilian harus merelakan cita-citanya melayang jauh karena kenyataan pahit harus diterimanya. Ayahnya meninggal dunia dan dia harus menggantikan perannya sebagai kepala keluarga..Itulah kehilangan yang sangat besar yang saya rasakan.

Lintang, dia adalah karakter favorit saya. Begitu dewasa, tenang, pintar dan bertanggung jawab. Kesan itu bisa langsung kita rasakan hanya dengan melihat ke matanya. Perjuangan dia dimulai dengan jauhnya jarak yang harus ditempuh dan halangan yang harus dihadapi demi mengobati kehausannya akan ilmu pengetahuan. Lintang (artinya bintang dalam bahasa jawa) memang bagaikan bintang penerang bagi siapapun yang mengenalnya. Kepintarannya dibagi-bagikan, Semangatnya ditularkan. Sosok ini bisa dibilang merupakan harapan bagi dunia pendidikan. Tapi sayang bakat luar biasanya harus sia-sia karena kemiskinan.

Seperti kutipan di akhir film ini, kita diingatkan bahwa menurut UUD 45 pasal 31 ” Setiap Warga Negara berhak mendapat Pendidikan “. Semoga saja hal ini selalu menjadi prioritas pemerintah dan makin banyak anak-anaK Indonesia yang bersemangat seperti Lintang, Ikal, Mahar, Kucai, Sahara, dlsb. dan tidak ada kehilangan seperti kehilangan seorang anak brillian seperti Lintang lagi.

Advertisement


No Responses Yet to “Laskar Pelangi”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.